my learning place

Google

Kasih Sayang

Menumbuhkan Jiwa Kasih Sayang

Abdullah bin Sinan mendatangi Imam Ja'far ash-Shadiq. "Aku bingung menghadapi temanku, ya imam," ucapnya. "Kenapa?" tanya sang imam."Aku sambungkan silaturahmi kepadanya tetapi ia memutuskan silaturahmi kepadaku. Kemudian kedua kalinya aku menyambungkan silaturahmi kepadanya. Begitu pul;a ketiga kalinya aku melakukan hal yang sama. namun, ia memutuskan silaturahmi denganku.Akhirnya, aku mengambil sikap untuk memutuskan silaturahmi dengannya. Bagaimana pendapat imam?" tanyanya. Imam Ja'far ash-Shadiq menjawab, "Jika kamu menyambungkan silaturahmi, tetapi temanmu malah memutuskannya, maka Allah yang akan menyambungkan hubungan antara kamu dan temanmu,. Namun, jika kamu menambil sikap untuk memutuskannya, maka Allah akan memutuskan hubungan kamu dan dia."

Kisah tersebut diatas terjadi beratus-ratus tahun lalu, tetapi kejadian serupa sering terjadi sat ini. Mungkin sering kita merasa kesal bahkan terkadang bersumpah tidak akan mendatangi teman kita karena tidak menyukai sikapnya. Kita sering merasa salah jika tidak melakukan sesuatu, padahal perbuatan tersebut jika dilakukan akan mendatangkann kasih sayang Allah kepada kita. Begitu pula kita sering merasa benar saat kita memutuskan silaturahmi dengan orang yang berbuat salah atau membenci kitta. Kita lupa, ketika banyak manusia tidak beriman kepada Allah, Dia tetap memberikan rezeki. Begitupula ketika banyak orang emmbenci dan memusuhi Nabi Muhammad SAW, beliau tetap berbuat baik dan bersilaturahmi. Mengapa diantara kita masih tidak mau melakukannya?

Sebenarnbya, silaturahmi dapat memanjangkan maal dan 'amal. Maksudnya, jika selalu bersilaturahmi, seseorang akan memiliki tambahanmaal (harta) dan memperbanyak amal. Pernyataan tersebut sesuai sabda Rasulullah yang mengatkan bahwa orang yang banyak silaturahmi akan mendapatkan rezeki.

Silaturahmi berasal dari bahasa arab "Silaturrahiim"  yang  merupakan gabungan dari "shilah" (artinya:menyambungkan) dan "rahiim" (artinya penyayang). Dari tata bentukan tersebut silaturahmi mengandung arti  suatu upaya menyambungkan kasih sayang. Dengan demikian kita melakukan silaturahmi dengan seseorang termaasuk yang tidak kita sukai, maka kita menebar kasih sayang kepadanya. Begitup ula kita murnikan niat bersilaturahmi kita buka untuk mendapatkan materi, tetapi mengharap kasih sayang Allah.

Islam adlah agama "rahmatan lil alamiin" yang artinya rahmat (kasih sayang) bagi seluruh alam. Maksudnya islam merupakan "software" bagi kehidupan seluruh alam dan akan menjadi rahmat jika diterapkan. Namun "rahmatan lil aalamin"nya islam tidak akan dirasakan jika umatnya tidak menebarkan kasih asayang. Dan diantara alat untuk menebar kasih sayang adalah sialturahmi.

Jika tujuan silaturahmi adalah menebarkan kasih sayang, maka wajar jika harus dilakukan walaupun dengan orang yang kita benci atau orang yang membenci kita. Mungkin dengan silaturahmi yang kita lakukan, seseorang yang membenci kita akan luluh hatinya. Begitu pula bila kita mengunjungu orang yang dibenci, akan tumbuh kasih sayang dalam diri kita terhadapnya. Jika dengan silkaturahmi "rahmatan lil 'aalaminn"nya islam dapat terwujud, apa slah bila kita bersilaturahmi terhadap penganun non-islam? Siapa tahu Allah menumbuhkan hidayah kepada orang-orang yang membenci islam. Begitulah ketika Allah menurunkan hidayah kepada penduduk Tha'if yang telah melempari Nabi Muhammad SAW, saat berdfakwah.

Untuk menumbuhkan kasih sayang dan ruh bersilaturahmi dalam diri, kita harus beriman, berilmu, dan beramal. Ukuran iman, ilmu, dan amal setiap orang tidak akan sama. Kewajiban silaturahmi tiddak ditujukan kepada orang yang tinggi kualitas iman, ilmu, dan amalnya, tetrapi kepada kita semua. Oleh karena itu, tidak sepantasnya kita terlalu mengndalkan orang lain datang kepada kita, tetapi mari kita datangi orang lain terlsbih dahulu. Jika ada orang yang tiadak mau mwenyambungkan silaturahmi, kita harus tetap melakukannya agar Allah mempererat hubungan kita. Allah-lah yang Maha Pengasih dan Penyayang dan Dia yang Maha menyambungkan kasih sayang. Begitu pula tidak ada yang dapat menolak ketika Allah berkehendak memisahkan seseorang dengan lainnya.


Semangat Memperbaiki Diri

Ada dua semangat yang harus selalu ada dalam diri kita yaitu semangat memperbaiki diri dan semanat melakukan hal yang tebaik. Kedua semangat ini yang akan membawa kita pada kepada keadaan yang lebih baik. Orang yang semangat memperbaiki diri tak akan pernah dirinya merasa jenuh untuk mencari ilmu. Setiap kejadian dijadikannya ilmu. Sesibuk apapun bekerja, tidak pernah menjebaknya. Waktunya etul-betul hemat. Setiap ada kesempartan untuk membaca, maka dia gunakan untuk membaca. Setiap ada pelatihan yang bisa membangkitkan semangat dia ikuti, Tak peduli berapa pun biaya yang harus dikeluarkan. Dia menyadari betul bahwa ilmulah yang akan mengahantarkannya ke arah yang lebih baik.

Semangat memperbaiki diri. Semangat ini akan menjauhkan seseorang dari pujian. Sebagus apapun pujian,. Lewat begitu saja. Pujian seorang astasan kepada bawahannya, misalnya. Tidak akan menjadikan seorang karyawan terlenakan. Baginya ada atau tidak pujian, tidak mempengaruhi kinerjanya. lain halnya, ketika datang kritikan. Begitu peka. Karena itu yang menjadi sarana untuk terus berbuat baik. Bahkan dirinya tidak pernah sungkan untuk bertanya apa kekurangan dirinya. Orang yang bersemangat untuk memperbaiki diri, semangatnya akan menular ke teman yang ada di dekatnya. karena datang dari kekuatan ruhiyah. Sehinga kehadirannya bisa memotivasi temannya yang malas. Idenya yang cemerlang menjadi rujukan besar. Dengan semangat memperbaiki diri, Kita mampu berbuat lebih baik lagi. Lingkungan di sekitar kita, tempat kita beraktivitas pun sedikit banyak akan terimbas pula menjadi lingkungan yang lebih baik. Mudah-mudahan Allah senantiasa memudahkan dan memam[pukan kita untuk menjadi pribadi muslim yang lebih baik dari sebelumnya.
Wallahu a'alam bishshawwab.


Perwujudan Amal

Pada suatu hari Muadz bin Jabal duduk di dekat Rasululullah SAW.. Muadz bertanya, "Ya Rasul  Allah, apa maksud ayat : Pada hari ditiupkan sankakala dan kalian datang dalam bergolong-golongan?" (QS.An-Naba [78]:18)
Beliau menjawab, "Wahai Muadz, engaku telah bertanya tentang sesuatu yang sangat berat". Beliau memandang jauh seraya berkata , "Umatku akan dibangkitkan menjadi sepuluh golongan. Tuhan memilahkan mereka dari kaum muslimin dan mengubah bentuk mereka. Sebagian mereka berbentuk monyet, sebagian berbentuk babi, sabagian lagi berjalan terbalik dengan kaki di atas dan muka di bawah lalu diseret-seret, sebagian lagi buta, dan merayap-rayap, sebagian lagi tuli-bisu dan tidak bisa berpikir, sebagian lagi menjulurkan lidahnya yang mengeluarkan cairan yang menjijikan. sebaigan lagikaki dan tangannya terpotong, sebagian lagi disalib pada tonggak-tonggak api, sebagian lainnya punya bau yang lebih menyngat dari bangkai, sebagian lagi memakai jubah ketat yang mengoyak kulitnya.
"Adapun oorang yang berbentuk monyet ialah para penyerbar fitnah dan suka memecah belah masyarakat. Yang bebentuk babi adalah pemakan harta haram. Yang kepalanya terbalik adalah pemakan riba.Yang buta adalah penguasa zhalim. Yang tuli dan bisu adalah orang yang takjub dengan amalnya sendiri. Yang menjulurkan lidahnya adlah para ulama atau hakim yang perbuatannya bertentangan dengan omongannya. Yan dipotong kaki dan tangannya adalah orang yang menyakiti tetangga. Yang disalibkanpada tonggak-tonggak api ialah para pembisik penguasa yang menjelekkan manujsia lain. Ynag baunnya lebih menyengat dari bangkai ialah orang yang pekerjaannya mengejar kesenangan jasmaniah dan tidak membayarkan hak Allah dengan hartanya. Yang dicekik oleh pakaiannya sendiri adalah orang yang sombong".***

Site Clock

Share on Facebook

Share on Facebook

Google+ Web Search